20 April 2014 | oleh : Damar Asih Kuntari, S.Sos | Pendamping PKH Kec. Pandak, Bantul
Aku baru saja pulang dari Puskesmas untuk koordinasi dan secara tak
sengaja mengdampingi lagi seorang RTSMku yang anaknya harus rawat inap.Tak
banyak yang kulakukan selain membantu mengurus administrasi berobat gratis
dengan kartu PKH. (ini memang sudah jadi tanggungjawabku).
Belum begitu jauh dari puskesmas ketika aku bertemu dengan seorang
gadis kecil yang melambaikan tangannya kearahku.Dia meneriakkan sesuatu yang
tak jelas terdengar.Tapi aku tahu dia bermaksud menyapaku.Nama gadis kecil itu
Yunika Santi.Kalau tidak salah dia duduk di bangku kelas 3 di SLB SD tak jauh
dari rumahnya.Gadis kecil ini secara fisik terlahir sempurna, namun dia tak
bisa bicara.Aku sering berinteraksi dengannya ketika Santika ikut ibunya dalam
pertemuan kelompok. Kadang ia menggodaku, tentu dengan caranya. Ahhhhh, dia
selalu sanggup membuatku bahagia.Kadang terbesit di kepalaku, tidakkah bapak
biologisnya kangen pada anak ini?Yach, gadis kecil ini memang terlahir tanpa
pernah tahu siapa ayah kandungnya.Dia dibesarkan oleh ibu dan kakek neneknya.
Yunika Santi, gadis kecil “istimewa” yang matanya selalu berbinar
ceria, yang selalu menyapaku ramah dengan “caranya”, yang selalu berlari
menghampiriku bersama Wiwik ketika aku muncul di sekolah mereka, adalah potret
ketulusan mencintai yang aku temui. Darinya aku merasa diberi cinta yang
benar-benar terlahir dari hati…..Terimakasih ya Allah..
Masih tentang CINTA…..
Sudah cukup lama peristiwa ini terjadi, tapi sampai kapanpun akan
tetap tersimpan rapi dalam hati..
Saat itu matahari mulai tergelincir ke arah barat.Pelan-pelan kuajak
AB 2583 EGku menaiki dusun Bongsren yang lokasinya agak menanjak.Ekstra
hati-hati aku saat itu.Karena jalan yang kulewati hanya jalan setapak yang di
cor dengan semen di dua sisinya.Jalanan agak licin karena hujan yang baru saja
mengguyur. Tak focus sedikit saja ban depan bisa terperosok. Aku menginjak remku untuk berhenti sebentar
karena ragu-ragu kalau aku salah jalan
menuju rumah salah satu dampinganku.
“Mbak Damar!” tiba-tiba kudengar suara memanggilku.Langsung aku
menoleh kea rah sumber suara itu.Adib, bocah yang usianya belum genap 5 tahun
itu melambaikan tangannya dan tersenyum lebar.Seketika, aku merasakan sesuatu
di hatiku.Terharu, bahagia, dan entahlah. Di sini, diatas sebuah bukit di sudut
kecamatan ini, dibawah pohon-pohon jati yang menjulang tinggi,ditempat yang
bila musim hujan tiba tanah lempungnya tak bersahabat dengan kaki, ada seorang
bocah kecil mengenalku. Hah! Lagi rasa syukur yang demikian besar menyusup ke
hatiku.”Terimakasih untuk mereka”
Pekerjaanku adalah CINTA…
CINTA yang dikirimkanNya padaku lewat binar mata Santika, lambaian
tangan Adib, jabatan hangat Wiwik dengan tangannya yang tak sempurna dan
komando Tio kepada teman-temannya ketika aku datang, “Mbak damar datang, ayo
salim!dan berebutlah mereka meraih tanganku.
Pekerjaanku adalah CINTA…,
Dan karenanya, aku pun memberikan hatiku ketika melakukannya…..
sudut pandang CINTA memang luar biasa
BalasHapusBener bener luar biasa ya mbak Damar
BalasHapus