Aku hampir menangis ketika menyaksikan Asep dan Tino berjalan didepan jenazah ibu mereka.
Tatapan 2 anak itu kosong. Entah apa yang bergolak di hati dan pikiran mereka.
Umur mereka belum genap 10 tahun, tapi 2 bocah itu sudah harus menghadapi hidup
tanpa ayah ibunya.
Aku hampir menangis ketika Ibu Hidayah bercerita tentang jalan
hidupnya.“10 tahun saya ditinggal suami tanpa kabar dan harus berjuang
menghidupi 2 anak ini Mbak.Dan sekarang saya rasa saya harus mengambil
keputusan mengajukan permohonan cerai.”begitu pada suatu malam perempuan
tangguh itu mencurahkan isi hatinya padaku.”Sementara saya juga harus mengurus
Kakak laki-laki saya yang juga tak bisa melakukan apapun karena penyakitnya.
Hidup saya berat mbak, tapi saya bersyukur setidaknya Allah memberi saya 2 anak
yang semoga menjadi orang berguna”
Aku hampir menangis ketika aku bertemu ibu Gimah, perempuan yang sudah
tak lagi muda, mengayuh sepeda di tengah terik matahari untuk menjemput anak
perempuannya yang tidak terlahir sempurna. Wiwik nama anak itu, usianya sudah
belasan. Dia gadis yang cantik sesungguhnya.Rambutnya yang dipotong pendek
selalu dijepit. Sebuah tas ransel menggelayut manja dipundaknya. Dan dia tampak
begitu bahagia ketika sang ibu mengantarkannya ke sekolah yang jaraknya tidak
dekat dari rumahnya. Mungkin semangat sang anak itulah salah satu alasan ibu
Gimah tidak lelah mengayuh sepedanya dalam segala cuaca. Dan ketika kami
bertemu dalam pertemuan kelompok, ibu Gimah selalu bangga bercerita tentang
Wiwik yang sebentar lagi masuk SMPLB. “Kata bu Guru sebentar lagi Wiwik SMP
mbak!”begitu ungkapnya. Dan saat itu dalam hati aku bertanya,”tidak lelahkah
Ibu?”Disaat yang sama, Wiwik tersenyum dan mencoba menyebut
namaku”Mbbbbma…”anak ini tak mampu berbicara. Lalu ia menyodorkan tangannya
yang juga tak sempurna untuk meraih tanganku..Aku benar-benar hampir menangis,
“Ya Allah jaga anak ini”batinku dalam hati.
Aku hampir menangis dalam kunjungan insidentalku sore itu. Seorang
anak laki-laki yang belum genap 7 tahun menjaga adik lelakinya yang belum
begitu tangguh berjalan, keduanya tampak
sangat lusuh. Ketika aku bertanya “Bapak ada dek?” Anak lelaki itu hanya
menggeleng sementara sang adik memperhatikanku dari ujung kaki hingga kepala.
Seorang tetangga mereka kemudian menghampiriku, “Bapaknya sedang disawah mbak”.
Aku melihat jam di HPku, sudah jam 5 sore dan bapak anak-anak ini belum pulang.
Si tetangga sepertinya tahu isi hatiku,”Anak-anak ini setiap hari ditinggal
bekerja sampai sore mbak.”Lalu bagaimana mereka makan?Siapa yang memandikan
anak-anak ini?Tanyaku dalam hati.Tak lama, si Bapak muncul dengan keranjangnya
yang penuh rumput.Dia kemudian mempersilahkanku duduk.Dan berceritalah dia,”Ibu
mereka pergi tanpa pamit mbak.Dulu anak saya yang paling kecil itu di bawa tapi
beberapa waktu anak itu dikembalikan pada saya.Tapi tidak secara
baik-baik.””Maksudnya bagaimana Pak?”. “Ya si kecil itu ditaruh di halaman
rumah saudara saya dengan selembar surat yang isinya menyerahkan anak ini pada
saya.” Berhenti disitu dadaku mulai sesak.Kupikir cerita semacam ini hanya
fiktif belaka di sinetron unggulan, tapi kejadian iini nyata terjadi. Di depan
mataku pula. Bapak ini melanjutkan ceritanya, “ Sekarang saya jadi ibu
sekaligus bapak untuk mereka mbak. Saya kasihan sama anak-anak saya sebenarnya,
tapi ajeng pripun malih mbak? Setiap malam ketika 3 anak saya itu tertidur
pulas, rasanya saya pengen marah pada diri saya sendiri.Hati ini rasanya….”Dan
bapak ini menutup ceritanya dengan mengatakan,”ini hidup saya mbak.Kadang ya
nggak terima, tapi ya sampun kulo tampi, kulo lakoni.Pikiran kulo gelar gulung
mbak”.
Rumah Tangga Sangat Miskin yang kudampingi, bagiku adalah mereka yang
paling kaya..Kaya sabar, kaya hati, kaya semangat, kaya ikhlas.Buat mereka aku adalah mbak pendamping, tapi buatku meski
tidak mereka sadari merekalah pendampingku dalam belajar hidup yang
sesungguhnya.
Kisah hidup mereka seolah menjadi batu yang keras menghantam kepalaku dan
membuatku tersadar begitu “lemahnya" aku hari-hari ini.DIA memberiku
banyak hal, udara bebas, orang tua luar biasa, teman-teman baik, pekerjaan
“istimewa”, tapi aku terus menobatkan diriku menjadi manusia paling sengsara.Ya
Robb maafkan aku yang lupa bersyukur pada begitu banyak nikmatMu.Terus mengeluh
bahkan hanya ketika KAU meminta sedikit kesabaranku atas segala hiruk pikuk
hatiku.
Rumah tangga sangat miskin adalah mereka yang paling kaya……
Dalam hantaman badai ujian mereka masih gagah berdiri dan berkata,
“Mau apalagi, inilah jalan hidup yang harus saya jalani.Manungso namung sadermo
nglakoni.Sabar!”
19 April 2012
oleh : Damar Asih K, S.Sos (Pendamping PKH Kecamatan Pandak)
19 April 2012
oleh : Damar Asih K, S.Sos (Pendamping PKH Kecamatan Pandak)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar