Oleh : Damar Asih K, S.Sos | Pendamping PKH Kec.Pandak Bantul
Belum terlalu lama aku bergabung dengan keluarga PKH, ketika aku menemukannya lalu sempat masuk dalam sepenggal cerita yang ditulisnya.
Waktu itu,
belum terlalu siang ketika aku sampai di rumah almh ibu Jimah (beliau meninggal
belum lama ini). Di rumah rekonstruksi itu aku disambut dengan begitu ramah oleh
bapak Jimin dan ibu Jimah “Nggih matur bapak ibu, sowan kulo mriki sepindah
silaturahmi” kubuka percakapan sebelum mengutarakan niat kedatanganku. Lalu aku
sebentar berbasa basi,
menanyakan kesibukan dua orang tua ini sehari hari,
menanyakan beberapa foto yang tergantung di dinding rumah mereka. Yach bahasa
kerennya, mencoba membangun “chemistry dengan calon pasien”. Dan sukses! Tak
butuh waktu lama untuk mencairkan suasana, bahkan segelas teh hangat serta
lempeng beras dalam toples bekas
agar-agar segera tersaji di depanku. Setelah kurasa suasananya tepat baru
kejalankan misi utamaku.
“Kiki, sini sebentar mbak
Damar pengen ketemu” panggil bu Jimah.
Tidak lama
kemudian, seorang gadis berusia belasan muncul di depanku.Penampilannya sungguh jauh dari potret keluarga sangat
sederhana yang ditampilkan 2 orangtua tadi. Kaos dan celana pendek yang sungguh
pendek melekat ditubuhnya yang termasuk kecil untuk anak-anak seusianya,
rambutnya dicat merah, dan telinganya ditindik 3 sekaligus.Ia tersenyum padaku
dan kusambut dengan uluran tangan. “Mbak Damar” aku memperkenalkan diriku.
Aku berpura
pura melihat jam di HPku. “Masih waktunya sekolah, kok kamu di rumah Ki?” aku
mengawali.Ia hanya menunduk, tak menjawab apa apa. Bu Jimah mulai marah dengan
sikap cucunya.Ia menceritakan kelakuan cucunya yang tidak mau sekolah beberapa
hari terakhir sambil sesekali mengelus dada. Tampaknya beban berat
menghimpitnya.Aku meraih tangan ibu tua itu, “Sabar bu, mulai besok Kiki akan
sekolah lagi.Biar saya yang mengurus ke sekolahnya. Ya kan Ki? Besok mbak
antar, mbak jemput juga”aku menenangkannya.
Kiki lalu
membuka mulutnya dan mengatakan saya mau sekolah lagi asal pindah dari
sekolahnya saat ini.Alasannya satu, di musuhi teman-teman.Aku lalu berusaha
menyelami masalahnya lebih jauh. Berulang meyakinkannya bahwa semua akan
berjalan baik-baik saja di sekolahnya saat ini. Tapi, keputusan anak ini
sepertinya sudah tak bisa ditawar lagi.“Pindah atau berhenti sekolah?”Dan aku
menyerah.Keesokan paginya, dengan “kuasa” penuh dari bapak Jimin dan ibu Jimah
aku ke sekolah Kiki.Berdiskusi dengan guru BKnya dan mengurus segala
administrasi kepindahan Kiki ke SMP YP Bantul yang juga telah kuhubungi dan
menyatakan bersedia menerima Kiki sebagai siswanya.
Hari pertama
sekolah setelah aksi mogoknya..
Seperti janjiku, aku mengantar dan menjemputnya. Jam
setengah tujuh aku telah siap di halaman rumahnya. Lalu memboncengkannya sampai
sekolah dan menyerahkannya pada kepala sekolah.
Begitu juga sewaktu jam pulang sekolah aku telah menunggunya di depan
gerbang lalu menyambutnya dengan pertanyaan “Bagaimana hari pertamamu Ki,
menyenangkan bukan?”.Pokoknya persis dengan perlakuan kepada anak TK agar rajin
berangkat sekolah. Begitulah kegiatanku selama beberapa hari, sebelum akhirnya
Kiki mengatakan akan berangkat sendiri. Lega!!!!!!!!
Tapi ternyata
tak lama, belum genap 2 minggu, pihak sekolah menghubungiku dan mengatakan Kiki
tidak masuk sekolah.Segera aku datang lagi ke rumahnya.Kali ini benar-benar
seru.Aku menyebut hari itu sebagai episode “mengenang masa lalu”.
Kiki tidak
muncul ketika berulang ibu Jimah memanggilnya.Kata ibu ini Kiki ada di kamarnya
sebelum aku datang.Tapi sekarang entah kemana.“Mengajak petak umpet ini anak”,
begitu pikirku.Dan benar saja ketika aku melongok ke kolong tempat tidurnya,
kutemukan Kiki berusaha bertahan di tempat persembunyiannya. Aku membujuknya
keluar(aku ikut masuk juga ke kolong) lalu kami kembali terlibat dalam obrolan
yang panjang. Lagi lagi usahaku tak sia-sia.Kiki kembali masuk sekolah.
“Alhamdulillah..”
Entah berapa
lama berselang setelah kejadian itu, pihak sekolah kembali menghubungi dan
memintaku datang. Di sana aku bertemu dengan kepala sekolah dan beliau
mengatakan Kiki benar-benar agak “istimewa”. Menurut pengamatan pihak sekolah,
kelakuan Kiki terhadap lawan jenis jauh melampaui anak-anak seusianya, dia
bahkan lebih nyaman bergaul dengan teman laki lakinya serta parahnya dia
kembali tak muncul di sekolah beberapa hari ini.
Aku bergerak
lagi.Saat aku datang ibu Jimah tampak sangat terpukul.Beliau lalu bercerita
sudah beberapa hari Kiki tidak pulang setelah diajak pergi oleh salah satu
teman dekatnya selama ini.“Laki-laki atau perempuan bu?Teman sekolahnya?”aku
memberondong si ibu. “Perempuan mbak, bukan teman sekolahnya hanya teman
mainnya, tidak tahu dulu ketemu anak itu dimana.Kulo dari dulu mboten seneng
nek amor bocah niku.Perasaannya saya ternyata benar mbak”.Ibu itu menangis.
Kasus
“hilangnya” Kiki sepenuhnya diurus keluarga.Beberapa hari tak kudengar
kabarnya, sebelum siang itu aku berpapasan dengan Kiki serta ibunya di jalan.Aku
menawarkan diri mengantar mereka pulang dan mereka mengiyakan. “Saya baru saja
jemput Kiki di kantor polisi mbak. Dia hampir saja jadi korban penjualan ABG”si
ibu memulai ceritanya.Dan Kiki melanjutkan, “Awalnya saya disekap mbak, terus katanya
ada orang mau booking saya dengan harga tinggi, diantarlah saya ke hotel.Tapi
ternyata itu hanya jebakan dari polisi”. Mendengar ceritanya aku tercengang,
“booking”, istilah yang bahkan aku tidak tahu cara penulisannya ini meluncur
dengan sangat ringan dari mulut ANAK SEKECIL INI? Sudahkah jaman segila
ini?Siapa yang salah?Kiki? Bu Jimah? Ibu kandungnya yang telah melahirkannya
tanpa seorangpun bersedia mengakuinya sebagai ayah kandung anak ini?Atau
lingkungan termasuk aku yang tak peka terhadap kasus semacam ini?Siapa yang
gagal memainkan perannya?Keluarga sebagai agen sosialisasi pertamanya?Atau
lembaga sekolah dengan fungsi latennya memanusiakan manusia? Ataukah tokoh agama dan masyarakat sebagai
agen sosialisasi sekunder dan pemegang control sosial? Atau salahkan saja teknologi yang dianggap terlalu
cepat berlari tak mengimbangi kekuatan mental penggunanya termasuk Kiki.
Rasanya tak perlu dulu menganalisa siapa yang salah, siapa korban.Lakukan saja
dulu tindakan penyelamatan. Aku berusaha lebih mendekatkan diri pada keluarga
ini, terutama pada Kiki dan Bu Jimah yang tampak menjadi pihak paling “sakit”
dalam masalah ini. Aku berusaha membesarkan hatinya, aku ingat ada yang pernah
memberitahuku bahwa salah satu cara paling ampuh adalah menyentuhnya lewat
agama. Dan pada bu Jimah aku melakukannya. Untuk Kiki aku berulang mengatakan
bahwa “Tuhan telah menyelamatkanmu dan memberimu kesempatan kedua untuk
memperbaiki dan tidak mengulangi semuanya”.
Akhirnya aku
benar-benar bisa bernapas lega saat Kiki setelah petualangannya yang panjang
bersamaku berhasil memperoleh Ijazah SMPnya.Aku sempat beberapa kali bahkan
melihatnya memakai seragam SMA. Sudah “sembuhkah” dia?Semoga...
Kiki, anak
sekecil itu,……….Hidup mungkin telah memberinya berbagai warna, seperti halnya
PKH telah “menyuguhiku” berbagai rasa, Manis, Asin, Asam, Pedas,namun semua
terasa begitu ISTIMEWA.
Hebat mbak damar ! Terharu aku baca'nya :D
BalasHapus