Senin, 26 Januari 2015

Bu, saya senang tapi juga sedih… #1


Oleh : Atun Martuti, S.Tp (pendamping PKH Kecamatan Kokap, Kulon Progo, D.I.Yogyakarta)
Hargomulyo, 28 Agustus 2012
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur lebaran. Kuniatkan untuk mengunjungi SD Muh Tlogolelo untuk mendapat kepastian status 2 (dua) siswa kakak beradik yang kabarnya DO karena selain ABK juga kerap sekali bolos sekolah. Sebelum ke sekolah kusempatkan mampir ke rumah dua siswa kakak beradik yang kebetulan rumahnya hanya beberapa meter dari sekolah, tapi ternyata kosong, pintu rapat tergembok. Perjalanan kulanjutkan ke sekolah. Singkat cerita, sepulang dari sekolah kusempatkan mampir ke rumah bu Je, ketua kelompok yang kerap berkomunikasi denganku perihal kedua anak DO tadi lantaran kedua orang tuanya sulit diajak berkomunikasi.

            Sampai rumah bu Je belum pulang, baru menjemput anak bungsunya di Taman Kanak-Kanak. Kebetulan yang ada di rumah adalah dik Fajar Uswatun Khasanah, dik Ana begitu aku biasa memanggilnya, anak sulung Bu Je. Kebetulan sekali, mungkin ini kali pertama aku bertemu dengannya semenjak dik Ana kuliah, padahal sekarang sudah masuk semester 5, berarti sekitar 2 tahun.
            Pertemuan dengan dik Ana mengingatkanku pada saat awal masa program PKH berjalan. Sebagai ketua kelompok tentu komunikasiku dengan bu Je, orang tua dik Ana lebih intensif ketimbang peserta PKH yang lain. Suatu ketika aku datang ke rumah, bu Je bercerita tentang anak-anaknya.
‘’Bu, kata orang-orang anak-anak saya pintar-pintar. Saya tentu saja senang dan bangga, tapi saya juga sekaligus sedih.”
“Lho sedihnya kenapa? ” tanyaku.
”Iya, justru karena prestasinya di sekolah bagus, anak saya banyak dikenal oleh guru-gurunya. Pergaulan dengan teman-teman yang prestasi membuatnya terdorong untuk ingin selalu belajar. Itu bagus menurut saya, tetapi ya kalau dia kemudian ingin sekali kuliah saya yang repot bu, bagaimana biayanya? Untuk makan sehari-hari dan sekolah selama ini saja sudah kerepotan kok mau kuliah.’
Ups, betul juga ya…..Wah, ini perlu penyikapan yang bijak dan butuh lompatan tindakan untuk menghadapi kasus ini.
‘Ah, jalani saja dulu, yang penting prestasinya tetap bagus. Kalau niat baik, Tuhan pasti memberi jalan. Nanti saya bantu cari informasi Bu, jawabku masih setengah hati karena sama sekali tak punya gambaran harus bagaimana.
            Itulah sekelumit dialogku dengan Bu Je beberapa tahun silam. Selain berusaha mencari informasi aku juga menyarankan pada bu Je agar anak sulungnya yang waktu itu kelas XI SMA agar rajin mencari informasi baik lewat internet, teman ataupun gurunya.
Seiring berjalannya waktu tak terasa tibalah di pertengahan tahun 2010 saat anak Bu Je lulus SMA. Bu Je bercerita bahwa anaknya diusulkan penelusuran bibit unggul perguruan tinggi negeri oleh sekolahnya, ambil pilihan pertama, kedokteran umum. Weits, kaget…kedokteran umum? Ya mungkin kalau beasiswa pendidikan dapat, lha biaya hidup (karena mau tak mau harus indekos, mengingat domisili jauh dari kampus), juga biaya buku dll, di kedokteran kan muahal…..Waktu masih bekerja di penerbit dan distributor buku aku sering melihat buku-buku kedokteran yang harganya selangit, ada yang mencapai jutaan? Waduh, harapan tentu saja ingin diterima, tapi kalau kedokteran perlu langkah ni untuk menyambung biaya lain-lain itu.
            Cari info sana-sini, kebetulan waktu itu aku mendapat informasi, tepatnya lupa, kalau tidak dari sms teman ya dari koran. Ada informasi beasiswa di perguruan tinggi yang juga sekaligus biaya hidup dan lain-lain. Nah ini suatu alternatif. Kuinformasikan hal ini pada anak Bu Je, yah sebagai alternative pilihan, biarlah Tuhan yang mengarahkan, jalan mana yang harus ditempuh.
            Singkat cerita akhirnya dik Ana pun mendaftar via online beasiswa yang kuberitahukan tadi dan lolos seleksi awal, tinggal menunggu waktu mengambil nomor tes dan mengikuti tesnya. Waktu itu dik Ana sempat ragu juga karena pihak sekolah sempat memberi warning agar jika diterima di perguruan tinggi atas usul sekolah jangan sampai dilepas, karena tentu menyangkut kredibilitas sekolah untuk usulan tahun berikutnya, Masuk akal…Kutenangkan dia, santai saja, berdoa, biarlah Tuhan yang mengarahkan jalan mana yang harus ditempuh. Kebetulan sekali pengumuman hasil seleksi bersamaan dengan hari tes untuk beasiswa. Mati-matian dik Ana dengan ditemani bapaknya jam 00.00 tanggal dan hari itu ke warnet untuk mendownload hasil seleksi....[bersambung ke-seri #2]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar