Kamis, 23 Oktober 2014

“SAYA HAMIL,…” (Catatan Pendamping PKH)



18 April 2012

Matahari bersinar cerah pagi ini setelah hujan demikian lebat mengguyur malam tadi. Genangan air masih kutemui di beberapa bagian jalan yang aspalnya mulai rusak entah digerus waktu, musim, atau memang karena kualitasnya  yang perlu dipertanyakan.
Kuselesaikan pekerjaan wajibku di pagi hari.Mencuci baju lalu menyiapkan segelas teh dan uba rampenya untuk pak tukang yang sedang mengecat rumah.Tak kusentuh sapu seperti biasanya, karena aku harus bergerak cepat pagi ini.Seseorang sedang menungguku menjemputnya.

Namanya, ibu Ngatiyem.Usianya mungkin sekitar 30 tahunan. Di usianya itu, ia sudah memiliki 3 anak. Eko Untoro, Dwi Untari, dan si bungsu Tri Prayitno. Jam setengah 9 aku sampai didepan sebuah tempat yang entah harus disebut sebagai apa. Sebuah petak berukuran tak lebih dari 5,5 M kali 3 M, beratap genting, tapi sama sekali tak berdinding. Hanya beberapa lembar terpal yang sudah tak layak dan tikar yang rusak, secara tak tertata menutupi bagian dalamnya.  Disanalah ibu ini hidup bersama suami dan ketiga anaknya, dan ia dengan begitu bangga menyebut tempat itu sebagai “rumah Kami”.
Aku belum mematikan motorku, ketika ibu ini memanggilku “Bu, saya sudah nunggu panjenengan”.Aku melepas helmku kemudian tersenyum kearahnya.He he ibu ini tampak berbeda dari biasanya.Dia memakai celana jeans dan kemeja usang dengan warna senada.Entah kapan dia belajar soal padu padan berpakaian.Rambut  cepaknya sepertinya baru saja dia sisir. Lalu sepasang anting plastic menghiasi daun telinganya.Benar-benar berbeda, mungkin baginya ini hari istimewa yang harus dia sambut dengan penampilan luar biasa pula.
Tri Prayitno, anak berusia sekitar 4 tahun itu menggelayut manja dalam gendongan si ibu. Bajunya lusuh, tak memakai alas kaki, sepertinya juga tidak mandi.Entah sudah berapa lama keluarga “istimewa” ini tidak membersihkan badan mereka dengan ritual mandi.
Setelah memastikan kartu dan segala syarat “berobat gratis” terbawa, kamipun segera berangkat.Tujuan kami adalah ke Puskesmas.Untuk memastikan kondisi si ibu yang beberapa waktu lalu mengaku hamil padaku.Sambil menggendong Tri Prayitno si ibu mengayuh sepedanya, sementara aku melajukan motorku dengan sangat pelan membarenginya.Ahh agak lega juga si ibu punya inisiatif naik sepeda sendiri dan tidak membonceng aku.Hehe…Sepanjang perjalanan banyak mata memandangku curiga, aneh, dan penuh tanda Tanya, “siapa gerangan yang tampak sangat “akrab” karo bojone Kejek?”Tapi ya maklumlah, Ibu Ngatiyem dan suaminya ini disebut-sebut “sinting”oleh masyarakat sekitar.
Setelah menempuh perjalanan “istimewa”, sampai  juga kami di Puskesmas yang kami tuju. Lagi dan lagi semua mata mengarah kepadaku.Untunglah aku memakai seragam pemberian Negara yang ada tulisan Kemensosnya, jadi keanehan anehan itu teredam dengan sendirinya.Meski ada pula yang akhirnya bertanya dan aku harus berulangkali memperkenalkan diri, “Saya pendamping ibu ini dari PKH Dinas Sosial”.
Para Bidan dan beberapa petugas Puskesmas langsung “heboh” mendengar pengakuan ibu Ngatiyem bahwa dia sedang hamil 4 bulan. Dan segeralah si ibu diminta melakukan test Lab untuk memastikan pengakuannya. Dan instruksi pun diberikan pada "Mbak Pendamping” ini.Hohoho. Barjalanlah aku ke Lab, kemudian dengan sedikit terburu buru memfoto copy beberapa kartu identitas untuk keperluan administrasi, menerangkan pada si ibu tentang apa yang harus dilakukannya untuk test urine ini. Beberapa saat kami menunggu hasil test itu. Wajahku tegang mungkin juga para bidan itu.Di pikiranku saat itu, “kalau ia benar-benar hamil itu artinya setidaknya sekali dalam sebulan aku harus melakukan ritual luar biasa pagi ini. Jika ia benar-benar hamil artinya akan ada 1 anak lagi yang mungkin akan bernasib sama dengan 3 kakaknya. Hidup tak wajar, tidak memperoleh sosialisasi seperti halnya anak dari keluarga normal, terlantar,TIDAK!!!!!Bagaimana hidup mereka dimasa depan?”
“Negatif Mbak”ucap petugas Lab akhirnya mengakhiri segala kekhawatiranku dan para Bidan itu.
“Alhamdulillah,.” Teriakku girang disambut helaan nafas lega para Bidan. “setidaknya tidak ada calon anak “terlantar” baru”begitu pikirku tanpa bermaksud melupakan janjiNya, bahwa segala yang diberiNya nyawa juga pasti diurusNya.
Dan petualanganku pagi itu berakhir setelah aku menjelaskan pada si ibu aturan minum obat padanya. Ditempat parker aku menyuruhnya pulang sendiri, alasanku “kulo ajeng ten kantor”. Pak Parkir bertanya panjang lebar dan kembali aku harus menjelaskan untuk kesekian kalinya.
Aku melemparkan badanku ke sofa kantor. Dan mulailah mulutku nyerocos.4 Operator itu tertawa, sejenak melupakan data yang harus mereka entry.Mereka kupaksa memberi selamat atas kesuksesanku pagi ini mengatasi Ibu Ngatiyem, istri Pak Kejek yang sangat “terkenal” itu.
Mas Bro, kemudian berkata, “Ya aku tahu dirimu bisa menaklukkan banyak hal. Cuma kurang satu………”.Mas Pur si ex Papua tertawa ngakak di belakang mejanya. “Mulai lagi….!”teriakku. Dan reaksiku membuat mereka tampak bahagia.
“Jadilah jalan kebahagiaan bagi orang lain, dan kebahagiaanmu akan menemukan jalannya sendiri. Bantulah sesamamu, dan AKU akan membantumu” ucapku menenangkan hati.
Lagi…..sebuah pengalaman istimewa yang kutemui di UPPKH. Terimakasih ya Allah,..dari sini aku bertemu banyak kejadian yang semoga bisa kujadikan bahan untuk belajar.

oleh : Damar Asih Kuntari, S.Sos

1 komentar: