18
April 2012
Matahari bersinar cerah pagi ini setelah hujan demikian lebat
mengguyur malam tadi. Genangan air masih kutemui di beberapa bagian jalan yang
aspalnya mulai rusak entah digerus waktu, musim, atau memang karena
kualitasnya yang perlu dipertanyakan.
Kuselesaikan pekerjaan wajibku di pagi hari.Mencuci baju lalu
menyiapkan segelas teh dan uba rampenya untuk pak tukang yang sedang mengecat
rumah.Tak kusentuh sapu seperti biasanya, karena aku harus bergerak cepat pagi
ini.Seseorang sedang menungguku menjemputnya.
Namanya, ibu Ngatiyem.Usianya mungkin sekitar 30 tahunan. Di usianya
itu, ia sudah memiliki 3 anak. Eko Untoro, Dwi Untari, dan si bungsu Tri
Prayitno. Jam setengah 9 aku sampai didepan sebuah tempat yang entah harus
disebut sebagai apa. Sebuah petak berukuran tak lebih dari 5,5 M kali 3 M,
beratap genting, tapi sama sekali tak berdinding. Hanya beberapa lembar terpal
yang sudah tak layak dan tikar yang rusak, secara tak tertata menutupi bagian
dalamnya. Disanalah ibu ini hidup
bersama suami dan ketiga anaknya, dan ia dengan begitu bangga menyebut tempat
itu sebagai “rumah Kami”.
Aku belum mematikan motorku, ketika ibu ini memanggilku “Bu, saya
sudah nunggu panjenengan”.Aku melepas helmku kemudian tersenyum kearahnya.He he
ibu ini tampak berbeda dari biasanya.Dia memakai celana jeans dan kemeja usang
dengan warna senada.Entah kapan dia belajar soal padu padan
berpakaian.Rambut cepaknya sepertinya
baru saja dia sisir. Lalu sepasang anting plastic menghiasi daun
telinganya.Benar-benar berbeda, mungkin baginya ini hari istimewa yang harus
dia sambut dengan penampilan luar biasa pula.
Tri Prayitno, anak berusia sekitar 4 tahun itu menggelayut manja dalam
gendongan si ibu. Bajunya lusuh, tak memakai alas kaki, sepertinya juga tidak
mandi.Entah sudah berapa lama keluarga “istimewa” ini tidak membersihkan badan
mereka dengan ritual mandi.
Setelah memastikan kartu dan segala syarat “berobat gratis” terbawa,
kamipun segera berangkat.Tujuan kami adalah ke Puskesmas.Untuk memastikan
kondisi si ibu yang beberapa waktu lalu mengaku hamil padaku.Sambil menggendong
Tri Prayitno si ibu mengayuh sepedanya, sementara aku melajukan motorku dengan
sangat pelan membarenginya.Ahh agak lega juga si ibu punya inisiatif naik
sepeda sendiri dan tidak membonceng aku.Hehe…Sepanjang perjalanan banyak mata
memandangku curiga, aneh, dan penuh tanda Tanya, “siapa gerangan yang tampak
sangat “akrab” karo bojone Kejek?”Tapi ya maklumlah, Ibu Ngatiyem dan suaminya
ini disebut-sebut “sinting”oleh masyarakat sekitar.
Setelah menempuh perjalanan “istimewa”, sampai juga kami di Puskesmas yang kami tuju. Lagi
dan lagi semua mata mengarah kepadaku.Untunglah aku memakai seragam pemberian
Negara yang ada tulisan Kemensosnya, jadi keanehan anehan itu teredam dengan
sendirinya.Meski ada pula yang akhirnya bertanya dan aku harus berulangkali
memperkenalkan diri, “Saya pendamping ibu ini dari PKH Dinas Sosial”.
Para Bidan dan beberapa petugas Puskesmas langsung “heboh” mendengar
pengakuan ibu Ngatiyem bahwa dia sedang hamil 4 bulan. Dan segeralah si ibu
diminta melakukan test Lab untuk memastikan pengakuannya. Dan instruksi pun
diberikan pada "Mbak Pendamping” ini.Hohoho. Barjalanlah aku ke Lab, kemudian
dengan sedikit terburu buru memfoto copy beberapa kartu identitas untuk
keperluan administrasi, menerangkan pada si ibu tentang apa yang harus
dilakukannya untuk test urine ini. Beberapa saat kami menunggu hasil test itu.
Wajahku tegang mungkin juga para bidan itu.Di pikiranku saat itu, “kalau ia
benar-benar hamil itu artinya setidaknya sekali dalam sebulan aku harus
melakukan ritual luar biasa pagi ini. Jika ia benar-benar hamil artinya akan
ada 1 anak lagi yang mungkin akan bernasib sama dengan 3 kakaknya. Hidup tak
wajar, tidak memperoleh sosialisasi seperti halnya anak dari keluarga normal,
terlantar,TIDAK!!!!!Bagaimana hidup mereka dimasa depan?”
“Negatif
Mbak”ucap petugas Lab akhirnya mengakhiri segala kekhawatiranku dan para Bidan
itu.
“Alhamdulillah,.”
Teriakku girang disambut helaan nafas lega para Bidan. “setidaknya tidak ada
calon anak “terlantar” baru”begitu pikirku tanpa bermaksud melupakan janjiNya,
bahwa segala yang diberiNya nyawa juga pasti diurusNya.
Dan petualanganku pagi itu berakhir setelah aku menjelaskan pada si
ibu aturan minum obat padanya. Ditempat parker aku menyuruhnya pulang sendiri,
alasanku “kulo ajeng ten kantor”. Pak Parkir bertanya panjang lebar dan kembali
aku harus menjelaskan untuk kesekian kalinya.
Aku melemparkan badanku ke sofa kantor. Dan mulailah mulutku
nyerocos.4 Operator itu tertawa, sejenak melupakan data yang harus mereka
entry.Mereka kupaksa memberi selamat atas kesuksesanku pagi ini mengatasi Ibu
Ngatiyem, istri Pak Kejek yang sangat “terkenal” itu.
Mas Bro, kemudian berkata, “Ya aku tahu dirimu bisa menaklukkan banyak
hal. Cuma kurang satu………”.Mas Pur si ex Papua tertawa ngakak di belakang
mejanya. “Mulai lagi….!”teriakku. Dan reaksiku membuat mereka tampak bahagia.
“Jadilah
jalan kebahagiaan bagi orang lain, dan kebahagiaanmu akan menemukan jalannya
sendiri. Bantulah sesamamu, dan AKU akan membantumu” ucapku menenangkan hati.
Lagi…..sebuah pengalaman istimewa yang kutemui di UPPKH. Terimakasih ya
Allah,..dari sini aku bertemu banyak kejadian yang semoga bisa kujadikan bahan
untuk belajar.
oleh : Damar Asih Kuntari, S.Sos
Sukurlah.. Tak pikir Damar yang hamil...
BalasHapus